BAB.8.
Pertentangan Sosial dan Integrasi Masyarakat
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT, karena
atas limpahan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan tugas yang berjudul
“Pertentangan-Pertentangan Sosial dan Integrasi Masyarakat” ini dengan baik dan
lancar.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah ISD.
Dalam makalah ini akan dibahas hal-hal yang menyangkut tentang perbedaan
kepentingan, prasangka dan diskriminasi, Ethnosentrisme dan stereotype, konflik
dalam masyarakat, serta integrasi masyarakat dan nasional. Maka dari itu
makalah ini cocok dibaca oleh kalangan mahasiswa maupun masyarakat umum yang
cinta terhadap persatuan dan kesatuan sebagai warga negara Indonesia.
Saya juga menyampaikan banyak terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu saya dalam menyelesaikan makalah ini.
Saya menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini tidak
luput dari kekurangan. Oleh sebab itu saya sangat berharap dapat menerima
kritik dan saran dari semua pihak untuk kesempurnaan makalah-makalah
selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap tingkah laku individu satu dengan individu lain pasti
berbeda. Individu bertingkah laku karena ada dorongan untuk memenuhi
kepentingannya. Tapi apabila gagal dalam memenuhi kepentingannya akan banyak
menimbulkan masalah baik bagi dirinya maupun bagi lingkungannya. Dan suatu hal
yang saling berkaitan, apabila seorang individu mempunyai prasangka dan akan
cenderung membuat sikap untuk membeda-bedakan. Maka akan terjadi sikap bahwa
kebudayaan dirinya lebih baik daripada kebudayaan orang lain, sehingga
timbullah konflik yaitu berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan
menentang pihak lawan yang disertai dengan ancaman atau kekerasan.
Di dalam kelompok masyarakat Indonesia, konflik dapat
disebabkan karena faktor harga diri dan kebanggaan kelompok terusik, adanya
perbedaan pendirian atau sikap, perbedaan kebudayaan, benturan kepentingan
(politik, ekonomi, kekuasaan). Adat kebiasaan dan tradisi yang hidup dalam
masyarakat merupakan tali pengikat kesatuan perilaku di dalam masyarakat. Suatu
kelompok yang ada dalam keadaan konflik yang berlangsung lama biasanya
mengalami disintegrasi. Dan untuk menyelesaikan semua itu melalui integrasi
masyarakat. Integrasi dapat berlangsung cepat atau lambat karena dipengaruhi
oleh faktor homogenitas kelompok, besar kecilnya kelompok, mobilitas geografis,
dan efektifitas komunikasi.
PERTENTANGAN SOSIAL DAN INTEGRASI MASYARAKAT
Pertentangan sosial di dalam masyarakat merupakan salah satu
konflik yang biasanya timbul dari berbagai faktor-faktor sosial yang ada di
dalam masyarakat itu sendiri. Pertentangan sosial ataupun konflik adalah salah
satu konsekuensi dari adanya perbedaan-perbedaan dan tindakan yang menyimpang
dari norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat misalnya peluang hidup,
gengsi, hak istimewa, dan gaya hidup. Berikut ini merupakan faktor-faktor yang
menyebabkan pertentangan sosial:
PERBEDAAN KEPENTINGAN
Kepentingan merupakan dasar dari timbulnya tingkah laku
individu dan sifatnya esensial bagi kelangsungan hidup individu itu sendiri.
Sehingga kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh individu di dalam manifestasi
pemenuhan dari kepentingan tersebut.Secara psikologis ada 2 jenis kepentingan
dalan diri individu yaitu kepentingan untuk memenuhi kebutuhan biologis dan
kebutuhan sosial/psikologis. Individu satu berbeda dengan individu yang lainya.
Berikut ini merupakan faktor perbedaan tersebut:
a. Faktor Bawaan
b. Faktor Lingkungan Sosial
a. Faktor Bawaan
b. Faktor Lingkungan Sosial
Kedua faktor diatas merupakan suatu contoh faktor yang dapat
menimbulkan suatu perbedaan. Perbedaan disini dibedakan atas faktor bawaan
yaitu suatu faktor yang memang timbul berdasarkan faktor perasaan ataupun
bawaan seorang individu dalam menyelesaikan masalahnya. Faktor yang lainnya
adalah faktor lingkungan sosial yang merupakan suatu faktor yang terjadi sangat
dekat dengan lingkungan sekitar kita. Sebagaimana kita tahu, lingkungan
merupakan suatu tempat pendidikan yang paling dekat dengan diri setiap individu
yang dapat menentukan baik tidaknya seorang individu di dalam lingkungan
sosialnya.
PRASANGKA, DISKRIMINASI DAN ETHOSENTRIS
Prasangka merupakan dasar pribadi seseorang yang setiap
orang memilikinya, sejak masih kecil unsur sikap bermusuhan sudah nampak.
Prasangka selalu ada pada mereka yang berpikirnya sederhana dan masyarakat yang
tergolong cendekiawan, sarjana, dan pemimpin atau negarawan. Prasangka dan
diskriminasi ini merupakan tindakan yang dapat merugikan pertumbuhan, perkembangan
dan bahkan integrasi masyarakat. Dalam kaitan dengan dasar kebutuhan pribadi,
prasangka menunjukkan pada aspek sikap. Sedangkan
untuk diskriminasimenunjukkan pada aspek-aspek tindakan.
Menurut Gordon Allproc (1958) ada 5 pendekatan
dalam menentukan sebab terjadinya prasangka:
1. Pendekatan Historis
Didasarkan atas teori Pertentangan Kelas yaitu menyalahkan kelas rendah yang imperior, dimana mereka yang tergolong dalam kelas atas mempunyai alasan untuk berprasangka terhadap kelas rendah.
2. Pendekatan Sosio Kultural dan Situasional
Meliputi mobilitas sosial, konflik antar kelompok, stigma perkantoran dan sosialisasi.
3. Pendekatan Kepribadian
Teori ini menekankan kepada faktor kepriadian sebagai penyebab prasangka (Teori Frustasi Agresi).
4. Pendekatan Fenomenologis
Ditekankan bagaimana individu memandang/mempersepsikan lingkungannya, sehingga persepsilah yang menyebabkan prasangka.
5. Pendekatan Naive
Menyatakan bahwa prasangka lebih menyoroti objek prasangka dan tidak menyoroti individu yang berprasangka.
1. Pendekatan Historis
Didasarkan atas teori Pertentangan Kelas yaitu menyalahkan kelas rendah yang imperior, dimana mereka yang tergolong dalam kelas atas mempunyai alasan untuk berprasangka terhadap kelas rendah.
2. Pendekatan Sosio Kultural dan Situasional
Meliputi mobilitas sosial, konflik antar kelompok, stigma perkantoran dan sosialisasi.
3. Pendekatan Kepribadian
Teori ini menekankan kepada faktor kepriadian sebagai penyebab prasangka (Teori Frustasi Agresi).
4. Pendekatan Fenomenologis
Ditekankan bagaimana individu memandang/mempersepsikan lingkungannya, sehingga persepsilah yang menyebabkan prasangka.
5. Pendekatan Naive
Menyatakan bahwa prasangka lebih menyoroti objek prasangka dan tidak menyoroti individu yang berprasangka.
Etnosentrisme merupakan sikap untuk menilai unsur-unsur
kebudayaan orang lain dengan menggunakan ukuran-ukuran kebudayaan sendiri. Dan
diajarkan kepada anggota kelompok secara sadar atau tidak, bersama-sama dengan
nilai kebudayaan.
Stereotype merupakan suatu tanggapan dan anggapan yang
bersifat jelek dan tantangan mengenai sifat-sifat dan watak pribadi
orang/golongan lain yang bercorak negatif sebagai akibat tidak lengkapnya
informasi dan sifatnya subjektif.
PERTENTANGAN SOSIAL KETEGANGAN DALAM MASYARAKAT
Konflik (Pertentangan) cenderung menimbulkan respon-respon
yang bernada ketakutan atau kebencian. Konflik dapat memberikan akibat yang
merusak terhadap diri seseorang, anggota kelompok. Konflik dapat mengakibatkan
kekuatan yang konstruktif dalam hubungan kelompok.
Ada 3 elemen dasar yang merupakan ciri-ciri dari situasi
konflik:
1. Terdapat 2 atau lebih unit-unit atau bagian-bagian yang terlibat konflik.
2. Unit tersebut mempunyai perbedaan yang tajam (kebutuhan, tujuan, masalah, nilai, sikap dan gagasan).
3. Terdapat interaksi diantara bagian-bagian yang mempunyai perbedaan tersebut.Terjadinya konflik bisa pada didalam diri seseorang, didalam kelompok dan didalam masyarakat.
1. Terdapat 2 atau lebih unit-unit atau bagian-bagian yang terlibat konflik.
2. Unit tersebut mempunyai perbedaan yang tajam (kebutuhan, tujuan, masalah, nilai, sikap dan gagasan).
3. Terdapat interaksi diantara bagian-bagian yang mempunyai perbedaan tersebut.Terjadinya konflik bisa pada didalam diri seseorang, didalam kelompok dan didalam masyarakat.
Cara-cara pemecahan konflik :
1. Elimination
Yaitu pengunduran diri salah satu pihak yang terlibat di dalam konflik, diungkapkan dengan “kami mengalah”, “kami keluar”, “kami membentuk kelompok sendiri”.
2. Subjugation/Domination
Yaitu orang/pihak yang mempunyai kekuatan terbesar dapat memaksa orang/pihak lain untuk mentaatinya.
3. Majority Rule
Yaitu suara terbanyak yang ditentukan dengan voting, akan menentukan keputusan, tanpa mempertimbangkan argumentasi.
4. Minority Consent
Yaitu kelompok mayoritas yang menang, namun kelompok minoritas tidak merasa dikalahkan dan menerima keputusan serta sepakat untuk melakukan kegiatan bersama.
5. Compromise
Yaitu semua sub kelompok yang terlibat di dalam konflik berusaha mencari dan mendapatkan jalan tengah.
6. Integration
Yaitu pendapat-pendapat yang bertentangan didiskusikan, dipertimbangkan dan ditelaah kembali sampai kelompok mencapai suatu keputusan yang memuaskan bagi semua pihak.
1. Elimination
Yaitu pengunduran diri salah satu pihak yang terlibat di dalam konflik, diungkapkan dengan “kami mengalah”, “kami keluar”, “kami membentuk kelompok sendiri”.
2. Subjugation/Domination
Yaitu orang/pihak yang mempunyai kekuatan terbesar dapat memaksa orang/pihak lain untuk mentaatinya.
3. Majority Rule
Yaitu suara terbanyak yang ditentukan dengan voting, akan menentukan keputusan, tanpa mempertimbangkan argumentasi.
4. Minority Consent
Yaitu kelompok mayoritas yang menang, namun kelompok minoritas tidak merasa dikalahkan dan menerima keputusan serta sepakat untuk melakukan kegiatan bersama.
5. Compromise
Yaitu semua sub kelompok yang terlibat di dalam konflik berusaha mencari dan mendapatkan jalan tengah.
6. Integration
Yaitu pendapat-pendapat yang bertentangan didiskusikan, dipertimbangkan dan ditelaah kembali sampai kelompok mencapai suatu keputusan yang memuaskan bagi semua pihak.
GOLONGAN-GOLONGAN YANG BERBEDADAN INTEGRASI SOSIAL
Integrasi berasal dari bahasa
inggris “integration” yang berarti kesempurnaan atau keseluruhan.
integrasi masyarakat dimaknai sebagai proses penyesuaian di antara unsur-unsur
yang saling berbeda dalam kehidupan masyarakat sehingga menghasilkan pola
kehidupan masyarakat yang memilki keserasian fungsi. Definisi lain mengenai
integrasi adalah suatu keadaan di mana kelompok-kelompok etnik beradaptasi dan
bersikap komformitas terhadap kebudayaan mayoritas masyarakat, namun masih
tetap mempertahankan kebudayaan mereka masing-masing.
Suatu integrasi sosial di perlukan agar masyarakat tidak
bubar meskipun menghadapi berbagai tantangan, baik merupakan tantangan fisik
maupun konflik yang terjadi secara sosial budaya.
Bentuk Integrasi sosial
Asimilasi yaitu pembauran kebudayaan yang disertai dengan hilangnya ciri khas kebudayaan asli.
Alkulturasi yaitu penerimaan sebagian unsur-unsur asing tanpa menghilangkan kebudayaan asli.
Asimilasi yaitu pembauran kebudayaan yang disertai dengan hilangnya ciri khas kebudayaan asli.
Alkulturasi yaitu penerimaan sebagian unsur-unsur asing tanpa menghilangkan kebudayaan asli.
Faktor-Faktor terjadinya masalah sosial
1. Faktor Internal: Faktor yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri, karena biasanya timbul dari suatu perasaan yang dialami oleh seorang individu itu sendiri.
· Kesadaran diri sebagai makhluk sosial
· Tuntutan kebutuhan
· Jiwa dan semangat gotong royong
2. Faktor External: Faktor yang berasal dari luar diri individu itu sendiri, karena biasanya timbul dari suatu masalah yang dialami oleh seorang individu itu sendiri di dalam lingkungan sosialnya.
· Tuntutan perkembangan zaman
· Persamaan kebudayaan
· Terbukanya kesempatan berpartisipasi dalam kehidupan bersama
· Persaman visi, misi, dan tujuan
· Sikap toleransi
· Adanya kosensus nilai
· Adanya tantangan dari luar
1. Faktor Internal: Faktor yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri, karena biasanya timbul dari suatu perasaan yang dialami oleh seorang individu itu sendiri.
· Kesadaran diri sebagai makhluk sosial
· Tuntutan kebutuhan
· Jiwa dan semangat gotong royong
2. Faktor External: Faktor yang berasal dari luar diri individu itu sendiri, karena biasanya timbul dari suatu masalah yang dialami oleh seorang individu itu sendiri di dalam lingkungan sosialnya.
· Tuntutan perkembangan zaman
· Persamaan kebudayaan
· Terbukanya kesempatan berpartisipasi dalam kehidupan bersama
· Persaman visi, misi, dan tujuan
· Sikap toleransi
· Adanya kosensus nilai
· Adanya tantangan dari luar
Syarat Berhasilnya Integrasi Sosial
1. Untuk meningkatkan Integrasi Sosial, Maka pada diri masing-masing harus mengendalikan perbedaan/konflik yang ada pada suatu kekuatan bangsa dan bukan sebaliknya.
2. Tiap warga masyarakat merasa saling dapat mengisi kebutuhan antara satu dengan yang lainnya.
1. Untuk meningkatkan Integrasi Sosial, Maka pada diri masing-masing harus mengendalikan perbedaan/konflik yang ada pada suatu kekuatan bangsa dan bukan sebaliknya.
2. Tiap warga masyarakat merasa saling dapat mengisi kebutuhan antara satu dengan yang lainnya.
INTEGRASI NASIONAL
Integrasi Nasional adalah penyatuan bagian-bagian yang
berbeda dari suatu masyarakat menjadi suatu keseluruhan yang lebih utuh atau
memadukan masyarakat-masyarakat kecil yang banyak jumlahnya menjadi suatu
bangsa. Selain itu dapat pula diartikan bahwa integrasi bangsa merupakan
kemampuan pemerintah yang semakin meningkat untuk menerapkan kekuasaannya di
seluruh wilayah (Mahfud MD, 1993: 71).
Integrasi tidak sama dengan pembauran atau asimilasi.
Integrasi diartikan integrasi kebudayaan, integrasi sosial,
dan pluralisme sosial.
Pembauran dapat berarti asimilasi dan amalganasi.
Integrasi kebudayaan berarti penyesuaian antar dua atau
lebih kebudayaan mengenai berapa unsur kebudayaan (cultural traits) mereka,
yang berbeda atau bertentangan, agar dapat dibentuk menjadi suatu sistem
kebudayaan yang selaras (harmonis).
Melalui difusi (penyebaran), di mana-mana unsur kebudayaan
baru diserap ke dalam suatu kebudayaan yang berada dalam keadaan konflik dengan
unsur kebudayaan tradisional tertentu.
PENUTUP
1. Kesimpulan
Di setiap masyarakat pasti muncul pertentangan-pertentangan
atau permasalahan-permasalahan, di antaranya:
Perbedaan Kepentingan: ada 2 kepentingan dalam diri individu,
yakni kepentingan biologis dan kepentingan sosial/psikologis.
Prasangka dan Diskriminatif: prasangka yang menunjukkan
aspek sikap sedangkan diskriminatif pada tindakan.
Ethnosentrisme dan Stereotype
Ethnosentrisme : kebudayaan dirinya lebih unggul dari kebudayaan
lainnya.
Stereotype
: gambaran dan anggapan jelek.
Konflik dalam kelompok: Suatu tingkah laku yang dibedakan
emosi tertentu yang sering dihubungkan dengannya.
Cara pengendalian dari permasalahan-permasalahan di atas,
yaitu melalui integrasi masyarakat dan nasional, yang mengandung pengertian:
1. Integrasi
Masyarakat : adanya kerjasama dari seluruh anggota masyarakat.
2. Integrasi
Nasional : organisasi-organisasi formal
melalui mana masyarakat menjalankan keputusan-keputusan yang berwenang.
2. Saran
Makalah yang ditulis ini tentunya sangat jauh dari nilai
kesempurnaan. Meskipun demikian penulis tetap menyarankan kepada para pembaca,
agar dalam menjalani kehidupan sehari-hari selalu melihat konflik maupun
pertentangan-pertentangan yang bersumber dari perbedaan secara logis dan
realistis, sehingga tidak menimbulkan konflik yang lebih besar yang dapat
mengarahkan kita pada perpecahan dalam berbangsa. Semoga makalah yang sederhana
ini memiliki manfaat bagi penulis khususnya dan seluruh pembaca pada umumnya.
3. Studi Kasus
CONTOH STUDI KASUS PERTENTANGAN DAN INTEGRASI MASYARAKAT
Contoh kasus pertentangan sosial yang sedang terjadi di indonesia antara lain adalah kasus mesuji, yang diakibatkan tidak adanya penyelesaian masalah yang baik. Sehingga terjadinya persengketaan tanah anatara masyarakat dengan pihak lain.
Contoh lain peristiwa tersebut di Bima, Nusa Tenggara
Timur, terjadinya pertumpahan darah karena adanya perselisihan antara warga
dengan perusahaan pertambangan yang akan membuka lahan pertambangan di wiliayah
tersebut. Namun ditolak oleh masyarakat di wilayah tersebut.
Agar tidak terjadi lagi kasus-kasus tersebut di indonesia,
masyarakat indonesia harus menanamkan sikap dan kesediaan menenggang dan sikap
terbuka golongan penguasa sehingga meniadakan kemungkinan diskriminasi.
OPINI : kasus diatas sering kali terjadi karena adanya
sikap yang tidak terbuka antara golongan penguasa terhadap rakyat kecil
sehingga sering kali terjadi kesalah pahaman antara satu dengan yang lain. maka
dari itu , masyarakat indonesia harus menanamkan sikap dan kesediaan menenggang
dan sikap terbuka golongan penguasa sehingga meniadakan kemungkinan
diskriminasi.
Daftar Pustaka
http://syifafauziah31.blogspot.com/2013/12/contoh-studi-kasus-pertentangan-dan.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar